Thema

Swadesi: Optimalkan identifikasi kapasitas diri, realisasikan semaksimalnya untuk diri dan lingkungan kita

Sabtu, 02 Juli 2011

Deteksi Kesehatan Lewat Kekerasan Ereksi


Perlu diketahui apakah Anda 'sosis' atau 'mentimun'.

Senin, 27 Juni 2011, 00:43 WIB
Pipiet Tri Noorastuti, Lutfi Dwi Puji Astuti 
 
ilustrasi bercinta (inmagine)
 
Tingkat kekerasan ereksi atau Erection Hardness Score  pria dapat menjadi indikator gangguan kesehatan yang memengaruhi kebahagiaan rumah tangga. Ini terungkap dari hasil survei Ideal Sex In Asia 2011 yang dilakukan PT Pfizer Indonesia.

Dari survei terungkap bahwa kekerasan ereksi yang tidak optimal menjadi tanda adanya gangguan kesehatan kardiovaskular dan penyakit kronis lain seperti diabetes, penyakit hati, obesitas, darah tinggi dan stroke.

Sebanyak 62 persen pria yang terlibat dalam survei, dengan tingkat kekerasan ereksi di grade 3 (EHS 3), lebih sering mengunjungi dokter diabandingkan dengan mereka yang memiliki kekerasan ereksi di grade 4 (EHS 4). EHS 3 dianalogikan keras seperti sosis, sedangkan EHS 4 dianalogikan seperti mentimun.

Menurut Dr Heru H, M Repro, SpAnd dari Asosiasi Seksologi Indonesia, ketika seorang pria tidak dapat mencapai tingkat kekerasan optimal (EHS 4), sel-sel pembuluh darah yang ada dalam organ intim tidak sepenuhnya terisi darah. Ini yang kemudian dihubungkan dengan diabetes, obesitas, dan kelainan pembuluh darah. Tingkat kekerasan ereksi sering pula dihubungkan dengan masalah psikologis dan konsekuensi penuaan.

“Pria EHS 3 lebih cenderung sakit-sakitan. Sebenarnya, kekerasan ereksi adalah tanda peringatan adanya masalah kesehatan yang apabila dibiarkan tanpa perawatan medis, dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari,” katanya saat ditemui di acara Peluncuran Survei Baru, Ideal Sex In Asia, di Plaza Semanggi.

Survei tersebut melibatkan 1.685 pria dan 1.624 wanita di 10 negara Asia, yang aktif melakukan hubungan seksual. Sebanyak 220 pria dan 200 wanita di antaranya adalah warga Indonesia. 

Berdasar survei itu, pria dengan EHS 3 memiliki kecenderungan menjalani rawat inap sebanyak 3 kali lebih sering dibanding dengan pria yang memiliki kekerasan ereksi optimal. Pria dengan EHS 3 disarankan berkonsultasi dengan dokter untuk mengidentifikasi penyebabnya dan melakukan terapi farmakologis.

“Terapi ini sudah teruji secara klinis dapat mengoptimalkan fungsi seksual pria dan membantu pasutri mencapai pengalaman seksual ideal,” kata Dr Heru.

Selain menjadi indikator kesehatan pria, tingkat kekerasan ereksi juga dikaitkan dengan kebahagiaan hidup pria. Hasil survei menyebutkan, bahwa pria yang memiliki tingkat kekerasan EHS 4 merasa dua kali lebih puas dengan hubungan rumah tangganya dibanding pria dengan EHS 3.

Pria dengan EHS 4 juga cenderung mengatakan 'yakin' atau 'sangat yakin' melakukan hubungan seksual daripada pria dengan EHS 3: 50% vs 27 %.

Wanita dengan pasangan EHS 4 pun merasa sangat puas dengan tingkat hasrat seksual, kinerja seksual pasangan mereka, serta memili kepercayaan diri atas perilaku seksual mereka sendiri, dibanding dengan wanita dengan pasangan EHS 3.

Namun yang menjadi masalah, pria dan wanita, terutama di Indonesia merasa kurang nyaman mendiskusikan fungsi ereksi dengan dokter mereka. Hampir setengah responden, bahkan mengaku tidak nyaman dengan masalah percakapan tersebut.

Sebanyak 45 persen pria dan 47 persen wanita mengaku bahwa mereka merasa tidak nyaman atau sangat tidak nyaman untuk mendiskusikan funfsi ereksi dengan dokter. “Tidak perlu malu jika suami mengalami masalah ini, yang penting segera cari solusi yang benar untuk mengatasi masalah ini,” kata Dr Heru. (umi)

• VIVAnews

Bentuk Bibir Pengaruhi Orgasme Wanita


Bagian bibir yang menonjol menjadi indikator kepuasan seksual wanita.

Sabtu, 2 Juli 2011, 00:36 WIB

Anda Nurlaila 
 
Bibir menggoda (inmagine)

Bibir bukan sekedar bagian wajah yang membuat wanita terlihat sensual atau seksi. Bentuk bibir juga mempengaruhi kemampuan wanita mencapai orgasme pada saat bercinta.

Stuart Brody, profesor psikologi di Universitas Skotlandia Barat, mengklaim, kemampuan wanita mencapai orgasme dapat dilihat hanya dari bentuk bibirnya.

Studi Brody menyimpulkan, wanita yang memiliki bibir atas menonjol pada bagian tuberkulum lebih mudah mencapai orgasme vaginal. Tuberkulum adalah bagian kecil menonjol yang berada tepat di bagian bawah hidung dan berbentuk huruf V. Bagian ini disebut sebagai indikator terbaik kepuasan seksual.

Kendati pemilik bibir penuh disebut memiliki kecakapan seksual, pemilik bibir tipis tak usah cemas. Sebab, yang menjadi perhatian adalah tonjolan kecil di atas bibir, bukan bentuk bibir secara keseluruhan.

Brody mengumpulkan data secara online dari 258 wanita, mayoritas berkebangsaan Skotlandia berusia rata-rata 27 tahun. Responden yang memiliki tuberkulum paling menonjol mengaku lebih sering memperoleh orgasme dari pada mereka yang tidak.
Studi Profesor Brody memang kontroversial. Pada studinya yang lain, Brody juga menemukan wanita yang energik dan otot panggul yang kencang saat berjalan lebih mungkin mencapai orgasme dibandingkan wanita yang terlihat 'kendur' saat melangkah  (eh)

• VIVAnews

Kamis, 30 Juni 2011

NEGOSIASI

AZIZAH SUDIRMAN

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Komunikasi adalah cara penyampaian pesan yang dilakukan satu arah atau lebih; ada komunikan dan komunikator yang nantinya diharapkan akan terjadinya umpan balik antara keduanya. Berkaitan dengan itu, kita tidak pernah terlepas dari yang namanya negosiasi. Dalam setiap proses negosiasi, selalu ada dua belah pihak yang berlawanan atau berbeda sudut pandangnya. Agar dapat menemukan titik temu atau kesepakatan, kedua belah pihak perlu bernegosiasi.

Menurut Hartman, pengertian negosiasi dapat berbeda-beda tergantung dari sudut pandang siapa yang terlibat dalam suatu negosiasi. Dalam hal ini, ada dua pihak yang berkepentingan dalam bernegosiasi, yaitu pembeli dan penjual. Bagi pihak pembeli, negosiasi merupakan seni membeli sampanye Prancis yang berkualitas baik dengan harga sebotol bir. Sementara bagi penjual, negosiasi merupakan seni menjual mobil mewah kepada pembeli yang berpura-pura hanya bisa membeli mobil kelas dua.

Lebih lanjut Hartman menegaskan bahwa negosiasi merupakan suatu proses komunikasi antara dua pihak yang masing-masing mempunyai tujuan dan sudut pandang mereka sendiri, yang berusaha mencapai kesepakatan yang memuaskan kedua belah pihak mengenai masalah yang sama.

B. Tujuan

Penyusunan makalah ini dilakukan dengan tujuan untuk Mengetahui beberapa defenisi dan pengertian Negosiasi, kedudukan dan mengurai lebih dalam mengenai Negosiasi.

h terlepas dari yang namanya persepsi, observasi dan judgment. Persepsi secara garis besar adalah proses penilaian seseorang terhadap suatu objek tertentu. Persepsi yang baik akan terjadi apabila kita menjalin hubungan yang baik pula dengan sesama manusia melalui lambang-lambang verbal dan non verbal, latar belakang budaya, pengalaman, psikologis,

II. PEMBAHASAN

A. Definisi Negosiasi

Negosiasi adalah Proses yang melibatkan upaya seseorang untuk mengubah (atau tak mengubah) sikap dan perilaku orang lain. Termasuk merupakan proses untuk mencapai kesepakatan yang menyangkut kepentingan timbal balik dari pihak-pihak tertentu dengan sikap, sudut pandang, dan kepentingan-kepentingan yang berbeda satu dengan yang lain.

Beberapa deftnisi dari para ahli, seperti 

  1. Hartman, definsi dan pengertian negosiasi berbeda – beda tergantung dari sudut pandang kedua belah pihak yang terlibat dalam suatu proses negosiasi. Dalam hal ini ada dua pihak yang terlibat dalam proses negosiasi, yakni pihak pembeli dan pihak penjual. Hartman menegaskan, bahwa negosiasi merupakan suatu proses komunikasi antara dua pihak, yang masing-masing mempunyai tujuan dan sudut pandang mereka sendiri, yang berusaha mencapai kesepakatan yang memuaskan kedua belah pihak mengenai masalah yang sama;
  2. Oliver, negosiasi adalah sebuah transaksi, yang kedua belah pihak mempunyai hak atas hasil akhir. Hal ini memerlukan persetujuan kedua belah pihak sehingga terjadi proses yang saling member dan menerima sesuatu untuk mencapai suatu kesepakatan bersama;
  3. Casse, negosiasi adalah proses, yang paling sedikit ada dua pihak dengan persepsi, kebutuhan dan motivasi yang berbeda mencoba untuk bersepakat tentang suatu hal demi kepentingan bersama.
 Berdasarkan ketiga pengertian diatas, negosiasi selalu melibatkan dua orang atau lebih yang saling berinteraksi, mencari kesepakatan diantara kedua belah pihak dan mecapai tujuan yang dikehendaki bersama kedua belah pihak yang terlibat dalam negosiasi.

B. Tujuan Negosiasi

Beberapa tujuan bernegosiasi,
  1. Meningkatkan profitabilitas pribadi dan profesional;
  2. Mencapai hasil yang diinginkan dan menciptakan sinergi saat mengembangkan hubungan;
  3. Memaksimalkan keuntungan dan nilai keuangan dalam negosiasi;
  4. Hindari bersikap curang;
  5. Netralkan negotiator yang sulit dan taktik mereka;
  6. Masuk ke dalam negosiasi dan jalankan dengan percaya diri;
  7. Ketahui kapan dan bagaimana cara keluar dari negosiasi;
  8. Tingkatkan hubungan personal dengan rekan, klien, dan orang yang anda cintai;
  9. Bangun sikap kepemimpinan dan keahlian membentuk tim;
  10. Ubah Perbedaan budaya menjadi aset lebih dari kewajiban.
Salah satu tujuan dari bernegosiasi adalah menemukan kesepakatan diantara kedua belah pihak secara adil dan dapat memenuhi harapan dan keinginan kedua belah pihak. Sehingga tidak boleh ada pihak yang merasa dirugikan atau diuntungkan dari kesepakatan kedua belah pihak. Kedua belah pihak harus merasa diuntungkan dari kesepakatan negosiasi diantara mereka.

Untuk mendapatkan suatu kesepakatan kedua belah pihak, beberapa hal perlu diperhatikan antara lain :
a. Persiapan yang cerma;
b. Presentasi dan evaluasi yang jelas mengenai posisi kedua belah pihak;
c. Keterampilan, pengalaman, motivasi, pikiran yang terbuka;
d. Pendekatan yang logis untuk menciptakan dan mempertahankan hubungan yang baik dan saling  menguntungkan serta saling menghormati
e. Kemauan untuk membuat konsesi untuk mencapai kesepakatan melalui kompromi bila terjadi kemacetan.

C. Karakteristik Negosiasi

Negosiasi terjadi ketika kita melihat, bahwa orang lain memiliki atau menguasai sesuatu yang kita inginkan. Tetapi sekedar menginginkan tidak cukup. Kita harus melakukan negosiasi untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dari pihak lain yang memilikinya dan yang juga mempunyai keinginan atas sesuatu yang kita miliki. Sedangkan agar negosiasi dapat terjadi dengan sukses, kita harus juga bersiap untuk memberikan atau merelakan sesuatu yang bernilai yang dapat kita tukar dengan sesuatu yang kita inginkan tersebut.

Dalam buku Teach Yourself Negotiating, karangan Phil Baguley, dijelaskan tentang definisi NEGOSIASI, yaitu suatu cara untuk menetapkan keputusan yang dapat disepakati dan diterima oleh dua pihak dan menyetujui apa dan bagaimana tindakan yang akan dilakukan di masa mendatang. 

Negosiasi memiliki sejumlah karakteristik utama, yaitu:

1. Senantiasa melibatkan orang – baik sebagai individual, perwakilan organisasi atau perusahaan, sendiri atau dalam kelompok;
2. Memiliki ancaman terjadinya atau di dalamnya mengandung konflik yang terjadi mulai dari awal sampai terjadi kesepakatan dalam akhir negosiasi;
3. Menggunakan cara-cara pertukaran sesuatu –baik berupa tawar menawar (bargain) maupun tukar menukar (barter);
4. Hampir selalu berbentuk tatap-muka –yang menggunakan bahasa lisan, gerak tubuh maupun ekspresi wajah;
5. Negosiasi biasanya menyangkut hal-hal di masa depan atau sesuatu yang belum terjadi dan kita inginkan terjadi;
6. Ujung dari negosiasi adalah adanya kesepakatan yang diambil oleh kedua belah pihak, meskipun kesepakatan itu misalnya kedua belah pihak sepakat untuk tidak sepakat.

D. Teknik Negosiasi

Teknik Negosiasi itu sangat diperlukan sekali dalam berbagai hal, namun tidak banyak juga orang yang lihai dalam ber-negosiasi padahal negosiasi itu sangat penting dan sangat dibutuhkan disetiap waktu. Secara sedernaha Arti atau definisi dari Negosiasi adalah nego sendiri berawal dari kata negosi yang artinya perdagangan atau perniagaan. jadi secara keseluruhan nogosiasi itu adalah proses tawar menawar dengan jalan berunding untuk memberi dan menerima guna mencapai kesepakatan antara satu pihak dengan pihak yang lain. Apakah setiap orang perlu negosiasi??? saya rasa semuanya perlu akan negosiasi dan tanpa sadar kita sering melakukan nogosiasi ini. Bagaimana cara negosiasi yang baik??? cara negosiasi yang sering saya lakukan ketika berunding dalam persidangan di kampus adalah seperti di bawah ini: 

Saya akan memperhatikan dan mempersiapkan dulu hal-hal yang perlu sebelum melakukan perundingan atau nogosiasi tersebut dan hal yang saya lakukan adalah:

1. Memikirkan manfaat bagi kedua pihak supaya tidak ada yang dirugikan;
2. memikirkan dulu alternatif-alternatif apa yang harus dilakukan;
3. Menyusun alternatif secara berjenjang atas pertimbangan untung dan rugi.

E. Langkah-langkah Negosiasi

1. Persiapan

Langkah pertama dalam melakukan negosiasi adalah langkah persiapan. Persiapan yang baik merupakan fondasi yang kokoh bagi negosiasi yang akan kita lakukan. Hal tersebut akan memberikan rasa percaya diri yang kita butuhkan dalam melakukan negosiasi. Yang pertama harus kita lakukan dalam langkah persiapan adalah menentukan secara jelas apa yang ingin kita capai dalam negosiasi. Tujuan ini harus jelas dan terukur, sehingga kita bisa membangun ruang untuk bernegosiasi. Tanpa tujuan yang terukur, kita tidak memiliki pegangan untuk melakukan tawar-menawar atau berkompromi dengan pihak lainnya.

Hal kedua dalam persiapan negosiasi adalah kesiapan mental kita. Usahakan kita dalam kondisi relaks dan tidak tegang. Cara yang paling mudah adalah dengan melakukan relaksasi. Bagi kita yang menguasai teknik pemrograman kembali bawah sadar (subconscious reprogramming) kita dapat melakukan latihan negosiasi dalam pikiran bawah sadar kita, sehingga setelah melakukannya berkali-kali secara mental, kita menjadi lebih siap dan percaya diri.

2. Pembukaan

Mengawali sebuah negosiasi tidaklah semudah yang kita bayangkan. Kita harus mampu menciptakan atmosfir atau suasana yang tepat sebelum proses negosiasi dimulai. Untuk mengawali sebuah negosiasi dengan baik dan benar, kita perlu memiliki rasa percaya diri, ketenangan, dan kejelasan dari tujuan kita melakukan negosiasi. Ada tiga sikap yang perlu kita kembangkan dalam mengawali negosiasi yaitu: pleasant (menyenangkan), assertive (tegas, tidak plin-plan), dan firm (teguh dalam pendirian). Senyum juga salah satu hal yang kita perlukan dalam mengawali sebuah negosiasi, sehingga hal tersebut akan memberikan perasaan nyaman dan terbuka bagi kedua pihak. Berikut ada beberapa tahapan dalam mengawali sebuah negosiasi:

a. Jangan memegang apa pun di tangan kanan anda ketika memasuki ruangan negosiasi;
b. Ulurkan tangan untuk berjabat tangan terlebih dulu;
c. Jabat tangan dengan tegas dan singkat;
d. Berikan senyum dan katakan sesuatu yang pas untuk mengawali pembicaraan.

Selanjutnya dalam pembicaraan awal, mulailah dengan membangun common ground, yaitu sesuatu yang menjadi kesamaan antar kedua pihak dan dapat dijadikan landasan bahwa pada dasarnya selain memiliki perbedaan, kedua pihak memiliki beberapa kesamaan yang dapat dijadikan dasar untuk membangun rasa percaya.

3. Memulai Proses Negosiasi

Langkah pertama dalam memulai proses negosiasi adalah menyampaikan (proposing) apa yang menjadi keinginan atau tuntutan kita. Yang perlu diperhatikan dalam proses penyampaian tujuan kita tersebut adalah:
a. Tunggu saat yang tepat bagi kedua pihak untuk memulai pembicaraan pada materi pokok negosiasi;
b. Sampaikan pokok-pokok keinginan atau tuntutan pihak anda secara jelas, singkat dan penuh percaya diri;
c. Tekankan bahwa anda atau organisasi anda berkeinginan untuk mencapai suatu kesepakatan dengan mereka;
d. Sediakan ruang untuk manuver atau tawar-menawar dalam negosiasi, jangan membuat hanya dua pilihan ya atau tidak;
e. Sampaikan bahwa ”jika mereka memberi anda ini anda akan memberi mereka itu – if you’ll give us this, we’ll give you that.” Sehingga mereka mengerti dengan jelas apa yang harus mereka berikan sebagai kompensasi dari apa yang akan kita berikan.
f. Hal kedua dalam tahap permulaan proses negosiasi adalah mendengarkan dengan efektif apa yang ditawarkan atau yang menjadi tuntutan pihak lain. Mendengar dengan efektif memerlukan kebiasaan dan teknik-teknik tertentu. Seperti misalnya bagaimana mengartikan gerakan tubuh dan ekspresi wajah pembicara. Usahakan selalu membangun kontak mata dengan pembicara dan kita berada dalam kondisi yang relaks namun penuh perhatian.

4. Zona Tawar Menawar (The Bargaining Zone)

Dalam proses inti dari negosiasi, yaitu proses tawar menawar, kita perlu mengetahui apa itu The Bargaining Zone (TBZ). TBZ adalah suatu wilayah ruang yang dibatasi oleh harga penawaran pihak penjual (Seller’s Opening Price) dan Tawaran awal oleh pembeli (Buyer’s Opening Offer). Di antara kedua titik tersebut terdapat Buyer’s Ideal Offer, Buyer’s Realistic Price dan Buyer’s Highest Price pada sisi pembeli dan Seller’s Ideal Price, Seller’s Realistic Price dan Seller’s Lowest Price pada sisi pembeli.

Kesepakatan kedua belah pihak yang paling baik adalah terjadi di dalam wilayah yang disebut Final Offer Zone yang dibatasi oleh Seller’s Realistic Price dan Buyer’s Realistic Price. Biasanya kesepakatan terjadi ketika terdapat suatu overlap antara pembeli dan penjual dalam wilayah Final Offer Zone.

5. Membangun Kesepakatan

Babak terakhir dalam proses negosiasi adalah membangun kesepakatan dan menutup negosiasi. Ketika tercapai kesepakatan biasanya kedua pihak melakukan jabat tangan sebagai tanda bahwa kesepakatan (deal or agreement) telah dicapai dan kedua pihak memiliki komitmen untuk melaksanakannya.

Perihal yang perlu kita ketahui dalam negosiasi tidak akan pernah tercapai kesepakatan kalau sejak awal masing-masing atau salah satu pihak tidak memiliki niat untuk mencapai kesepakatan. Kesepakatan harus dibangun dari keinginan atau niat dari kedua belah pihak, sehingga kita tidak bertepuk sebelah tangan.

Karena itu, penting sekali dalam awal-awal negosiasi kita memahami dan mengetahui sikap dari pihak lain, melalui apa yang disampaikan secara lisan, bahasa gerak tubuh maupun ekspresi wajah. Karena jika sejak awal salah satu pihak ada yang tidak memiliki niat atau keinginan untuk mencapai kesepakatan, maka hal tersebut berarti membuang waktu dan energi kita. Untuk itu perlu dicari jalan lain, seperti misalnya: conciliation, mediation dan arbitration melalui pihak ketiga.

Demikian sekilas mengenai negosiasi, yang tentunya masih banyak hal lain yang tidak bisa dikupas dalam artikel pendek. Yang penting bagi kita selaku praktisi Mandiri, kita harus tahu bahwa negosiasi bukan hal yang asing.

Setiap kita adalah negosiator dan kita melakukannya setiap hari setiap saat. Selain itu negosiasi memerlukan karakter (artinya menggunakan seluruh hati dan pikiran kita), memerlukan penguasaan metoda atau pun teknik-tekniknya dan memerlukan kebiasaan dalam membangun perilaku bernegosiasi yang baik dan benar.

III. PENUTUP

A. Kesimpulan

Negosiasi itu sangat diperlukan sekali dalam berbagai hal, namun tidak banyak juga orang yang lihai dalam ber-negosiasi, padahal negosiasi itu sangat penting dan sangat dibutuhkan di setiap waktu. Secara sedernaha Arti atau definisi dari Negosiasi adalah nego sendiri berawal dari kata negosi yang artinya perdagangan atau perniagaan

Daftar Pustaka
http://id.shvoong.com/business-management/2153946-pengertian-dan-tujuan-negosiasi-dalam/#ixzz1QlPYDsGbhttp://kalimasada.blogdetik.com/2009/04/20/negosiasi-suatu-pengantar/
http://www.edo.web.id/wp/2007/08/14/negosiasi/

OBSERVASI

 Posted by
AZIZAH SUDIRMAN

PEMBAHASAN

A. DEFENISI OBSERVASI

Observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian. Observasi Langsung dilakukan terhadap obyek di tempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa, sehingga observer berada bersama obyek yang diselidikinya. Sedang Observasi Tidak Langsung adalah pengamatan yang dilakukan tidak pada saat berlangsungnya suatu peristiwa yang akan diselidiki. Misalnya peristiwa tersebut diamati melalui film, rangkaian slide atau rangkaian foto

Observasi ialah metode atau cara-cara yang menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung.

a) Pengertian observasi menurut para ahli :

1. Observasi adalah suatu penyelidikan yang dijalankan secara sistematis dan sengaja diadakan dengan menggunakan alat indra terutama mata terhadap kejadian-kejadian yang langsung (Bimo Walgito, 1987:54).
2. Observasi adalah suatu tehnik untuk mengamati secara langsung maupun tidak langsung gejala-gejala yang sedang /berlangsung baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah (Djumhur, 1985:51).
3. Observasi sebagai alat pengumpul data adalah pengamatan yang memiliki sifat-sifat (depdikbud:1975:50).

B. TUJUAN OBSERVASI

Tujuan utama metode observasi adalah mendeskripsikan perilaku. Para ilmuwan berusaha mendeskripsikan perilaku selengkap dan seakurat mungkin. Peneliti menghadapi berbagai tantangan serius dalam usaha mencapai tujuan ini. Ilmuwan menyandarkan diri pada observasi terhadap sampel perilaku orang, tetapi mereka harus memutuskan apakah sampel mereka mewakili perilaku yang biasa dilakukan oleh orang itu. Sampel digunakan untuk mempresentasikan populasi yang lebih besar dari semua kemungkinan perilaku.

C. TEKNIK OBSERVASI

Teknik observasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu :

1. Structured or controlled observation (observasi yang direncanakan, terkontrol).

Pada structured observation, biasanya mengamat menggunakan blangko-blangko daftar isian yang tersusun, dan didalamnya telah tercantum aspek-aspek ataupun gejala-gejala apa saja yang perlu diperhatikan pada waktu pengamatan itu dilakukan.

2. Unstructure or informal observation (observasi informasi atau tidak terencanakan lebih dahulu).

Adapun pada unstructurred observation, pada umumnya pengamat belum atau tidak mengetahui sebelumnya apa yang sebenarnya harus dicatat dalam pengamatan itu. Aspek-aspek atau peristiwanya tidak terduga sebelumnya.

Agar penggunaan teknik ini dapat menghimpun data secara efektif perlu diperhatikan beberapa syarat sebagai berikut :

a. Orang yang melakukan observasi (observer) harus memiliki pengetahuan yang cukup mengenai obyek yang akan diobservasi.

b. Observer harus memahami tujuan umum dan tujuan khusus dari penelitian yang dilaksanakannya. Dengan demikian observer harus memahami juga secara baik masalah-masalah penelitian agar mampu menghimpun data dari gejala yang timbul sesuai dengan keperluan pemecahan masalah penelitian.

c. Tentukan cara dan alat yang dipergunakan dalam mencatat data. Untuk itu harus dipertimbangkan apakah pencatatan langsung di tempat observasi tidak akan merugikan bagi pengumpulan data. Sebaliknya harus dipertimbangkan juga apakah pencatatan setelah observasi dapat menjamin terhimpunnya data sebagaimana adanya, lebih-lebih apabila obyeknya komplek. Selanjutnya harus dipilih alat mencatat yang paling efektif apakah mempergunakan anecdotal record, catatan berkala, check list, rating sacle atau mechanical device.

d. Tentukan kategori pencatatan gejala yang diamati, dngan mempergunakan skala tertentu atau sekedar mencatat frekuensi munculnya gejala tanpa klasifikasi tingkatannya. Bilamana dipilih pencatatan dengan kategori tertentu, maka harus dirumuskan dengan tegas dan jelas. Ciri-ciri setiap kategori. Dengan kata lain harus jelas ciri-ciri gejala yang dikelompokkan dalam kategori sangat baik, baik, sedang, buruk, dan buruk sekali.

e. Observasi harus dilakukan secara cermat dan kritis. Seorang observer harus berusaha agar tidak satupun gejala yang lepas dari pengamatannya. Oleh karena itu observer haus bersifat kritis dalam menetapkan apakah satu gejala berhubungan dengan masalah penyelidikannya. Pada giliran berikutnya observer harus besikap ritis pula dalam menetapkan suatu gejala termasuk kategori yang mana.

f. Pencatatan setiap gejala harus dilakukan secara terpisah. Gejala demi gejala harus dicatat secara terpisah agar tidak saling mempengaruhi. Observer harus menghindari pencatatan suatu gejala secara tidak tepat karena pengaruh gejala yang lain. Misalnya karena sikap sopan dari orang yang diobservasi (observer), berpengaruh pada pencatatan tentang ketekunannya dalam bekerja sehingga dikategorikan sangat tekun, sedang dalam kenyataannya yang bersangkutan bukanlah orang yang patut dinyatakan sangat tekun.

g. Pelajari dan latihlah cara-cara mencatat sebelum melakukan observasi.

D. KEDUDUKAN OBSERVASI

Observasi merupakan metode langsung terhadap tingkah laku sampling di dalam situasi sosial, dengan demikian merupakan bantuan yang vital sebagai suatu alat evaluasi.

Melalui observasi, deskripsi objektif dari individu-individu dalam hubungannya yang aktual satu sama lain dan hubungan mereka dengan lingkungannya dapat diperoleh. Dengan mencatat tingkah laku ekspresi mereka yang timbul secara wajar, tanpa dibuat-buat, teknik observasi menjadi proses pengukuran (evaluasi) itu tanpa merusak atau mengganggu kegiatan-kegiatan normal dari kelompok atau individu yang diamati. Data yang dikumpulkan melalui observasi mudah dan dapat diolah dengan teknik statistik konvensional.

Jenis-jenis situasi sosial yang dapat diselidiki dengan observasi sangat luas, mencakup bermacam penelitian mengenai tingkah laku fisik, sosial dan emosional, dari mulai TK, SD, SMP sampai kepada pengamatan terhadap tingkah laku orang dewasa, di pabrik-pabrik, di kantor-kantor, di rumah, dalam kelompok diskusi, dan dalam situasi-situasi lain di masyarakat.

Dalam rangka evaluasi hasil belajar, observasi digunakan sebagai teknik evaluasi untuk menilai kegiatan-kegiatan belajar yang bersifat keterampilan atau skill. Misalnya untuk mengadakan penilaian terhadap murid-murid : bagaimana cara mengelas, membubut, menjahit pakaian, mengetik, membuat sambungan kusen pintu, dan menyambung kabel dan memasang alat-alat listrik. Dalam observasi ini guru menggunakan blangko daftar isian yang didalamnya telah tercantum aspek-aspek kegiatan dari keterampilan itu yang harus dinilai, dan kolom-kolom tempat membutuhkan check atau skor menurut standar yang telah ditentukan.

E. JENIS-JENIS OBSERVASI

a. Observasi Partisipan

Observasi Partisipan adalah suatu proses pengamatan yang dilakukan oleh observer dengan ikut mengambil bagian dalam kehidupan orang-orang yang akan diobservasi. Observer berlaku sungguh-sungguh seperti anggota dari kelompok yang akan diobservasi. Apabila observer hanya melakukan pura-pura berpartisipasi dalam kehidupan orang yang akan diobservasi tersebut dinamakan Quasi Partisipant Observation. Dalam observasi partisipan perlu diperhatikan beberapa hal untuk meningkatkan kecermatan. Pertama adalah persoalan pencatatan yang harus dilakukan diluar pengetahuan orang-orang yang sedang diamati. Pencatatan yang diketahui akan menimbulkan kecurigaan bahwa pencatat bukan anggoa kelompok tersebut. Bilaman terjadi hal seperti itu kerap kali obyek yang diamati akan bertingkah laku tidak wajar karena mengetahui mereka sedang diamati. Kemungkinan ingkah lakunya dibuat-buat supaya dicatat sebagai tingkah laku yang baik atau sebaliknya dibuat-buat agar dikategorikan buruk.

b. Observasi Non Partisipan

Observasi Non Partisipan adalah dimana observer tidak ikut di dalam kehidupan orang yang akan diobservasi, dan secara terpisah berkedudukan selaku pengamat. Di dalam hal ini observer hanya bertindak sebagai penonton saja tanpa harus ikut terjun langsung ke lapangan.

c. Observasi Sistematik

Observasi Sistematik adalah observasi yang diselenggarakan dengan menentukan secara sistematik faktor-faktor yang akan diobservasi lengkap dengan kategorinya. Dengan kata lain wilayah materi observasi telah dibatasi secara tegas sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian. Umumnya observasi sistematik dilakukan dalam jangka waktu pendek. Oleh karena itu agar terkumpul data sebanyak mungkin, maka observasi ini memerlukan lebih dari seorang observer dan bilamana dimungkinkan dilengkapi pula dengan penggunaan alat pecatat mekanik (elektronik) meskipun ditinjau dari sudut pembiyaan yang biasanya cukup mahal.

d. Observasi Non Sistematik

Observasi Non Sistematik adalah observasi yang dilakukan tanpa terlebih dahulu mempersiapkan dan membatasi kerangka yang akan diamati.

e. Observasi Eksperimental

Observasi Eksperimental adalah dengan sengaja menimbulkan gejala tertentu untuk dapat diobservasi. Pengembangan metode ini makin lama makin intensif karena ternyata memang sangat besar kegunaanya. Dalam observasi ini dilakukan usaha mengendalikan unsur-unsur tertentu di dalam situasi yang akan diamati. Dengan kata lain situasi ini diatur sesuai dengan tujuan penelitian, untuk menghindari, atau mengurangi timbulnya faktor-faktor lain yang tidak diharapkan mempengaruhi situasi itu.

Observasi Eksperimental juga memiliki ciri-ciri yaitu:

• Observer mambuat sesuatu perangsang berupa suatu situasi yang sengaja diselenggarakan di lingkungan obyek yang akan diobservasi.
• Situasi perangsang itu harus memungkinkan terdapat variasi gejala yang timbul.
• Observer harus diusahakan tidak mengetahui maksud sebenarnya dari observasi atau sekurang-kurangnya tentang maksud pengendalian faktor-faktor tersebut di atas.
• Alat pencatat harus dipilh yang benar-benar mampu membuat catatan yang teliti mengenai gejala-gejala yang timbul.

f. Observasi Non Eksperimental

Observasi Non Eksperimental adalah observasi yang dilakukan dengan tidak menimbulkan gejala-gejala tertentu agar dapat diamati.


F. SITUASI DALAM OBSERVASI

Yesrild dan Meigs membagi situasi-situasi yang dapat diselidiki melalui observasi langsung itu menjadi tiga macam, yaitu :

a. Situasi bebas (free situation).
b. Situasi yang dibuat (manipulated situation).
c. Situasi campuran (partially controlled) gabungan dari kedua situasi tersebut.

Pada situasi bebas, klien yang diamati dalam keadaan bebas, tidak terganggu, dan tidak mengetahui bahwa ia atau mereka sedang diamati. Dengan observasi terhadap situasi bebas, mengamat dapat memperoleh data yang sewajar-wajarnya (apa adanya) tentang perisitiwa atau tingkah laku seseorang atau kelompok yang tidak dibuat-buat.

Pada situasi yang dibuat, pengamat telah sengaja membuat atau menambahkan kondisi-kondisi atau situasi-situasi tertentu, kemudian mengamati bagaimana reaksi-reaksi yang timbul dengan adanya kondisi atau situasi yang sengaja di buat itu. Misalnya dengan memberikan sesuatu yang dapat menimbulkan frustasi. Observasi yang dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan belajar yang bersifat keterampilan termasuk ke dalam jenis situasi (situasi yang dibuat).

Situasi campuran (partially controlled) adalah situasi dalam observasi yang merupakan gabungan dari kedua macam situasi tersebut di atas.

Tujuan-tujuan observasi dalam rangka evaluasi pendidikan pada umumnya untuk menilai pertumbuhan dan kemajuan murid dalam belajar, bagaimana perkembangan tingkah laku penyesuaian sosialnya, minat dan bakatnya dan seterusnya.

G. CARA-CARA MENCATAT OBSERVASI

Ada dua cara pokok tentang mencatatkan observasi itu.

a. Unit-unit tingkah laku yang akan diamati dirumuskan atau ditentukan lebih dulu, dan catatan-catatan yang dibuat hanyalah mengenai aspek-aspek atau kegiatan yang telah ditentukan.

b. Kita mengadakan observasi tanpa menentukan lebih dulu aspek-aspek atau kegiatan-kegiatan tingkah laku yang akan diamati. Dengan demikian, menurut cara yang kedua kita dapat memperoleh data yang luas dan bervariasi (banyak macamnya)

Cara yang pertama biasa dilakukan dalam penyelidikan formal (formal studies), sedangkan cara yang kedua baik untuk digunakan bagi situasi-situasi informal. Dalam kegiatan evaluasi proses belajar-mengajar, kedua cara mencatatkan observasi tersebut diatas sering kali diperlukan dan dilakukan oleh guru-guru di sekolah

H. KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN OBSERVASI

I. KEUNGGULAN

Kebaikan-kebaikan observasi sebagai teknik pengumpulan data antara lain adalah:

a. Sulit untuk dibantah kenyataan bahwa banyak gejala-gejala dalam kehidupan manusia yang hanya dapat diselidiki dengan melakukan observasi.
b. Banyak obyek yang dalam memberikan bantuan data hanya bersedia diobservasi, misalnya karena terlalu sibuk sehingga tidak mempunyai waktu yang cukup untuk di interviu atau mengisi kuesioner yang memerlukan waktu khusus.
c. Kejadian yang serempak dapat diamati dan dicatat secara serempak pula dengan memperbanyak observer.
d. Observasi tidak tergantung pada self report (kesediaan obyek untuk memberikan informasi tentang dirinya), sehingga data yang diperoleh tidak dipengaruhi oleh penafsiran dan kejujuran obyek yang diselidiki.
e. Banyak kejadian-kejadian yang mungkin dipandang kecil atau remeh oleh obyek penelitian yang tidak dapat diungkapkan dengan mempergunakan alat pengumpulan data yang lain, ternyata sangat menentukan hasil penelitian dan hanya mungkin diungkapkan melalui observasi.

II. KELEMAHAN

Untuk meningkatkan kecermatan dalam mempergunakan teknik observasi guna mengumpulkan data, perlu diketahui beberapa keterbatasan atau kelemahannya, yaitu:

1. Observasi sangat tergantung pada kemampuan pengamatan dan mengingat dari observer. Kemampuan melakukan pengamatan dan mengingat seorang observer sebagai manusia ternyata dipengaruhi oleh beberapa aspek sebagai berikut:

a. Daya adaptasi.

Kemampuan menyesuaikan diri dengan obyek yang akan diamati sangat penting bagi terselenggaranya pengamatan yang efektif. Akan tetapi bilamana adaptasi ini dilakukan secara berlebih-lebihan, seseorang akan melupakan fungsinya sebagai pengamat sehingga tidak mampu menangkap fakta-fakta tentang obyeknya karena dipengaruhi oleh pendapatannya sendiri sebagai orang yang menjadi bagian dari obyek yang diamatinya.

b. Kebiasaan-kebiasaan

Setiap observer karena kebiasaan-kebiasaan dalam kehidupannya memiliki pola-pola pengalaman tertentu. Dalam melakukan pengamatan pengalaman itu dipergunakan sebagai bahan apersepsi, yang sangat besar peranannya. Observer dalam melakukan interpretasi karena pengaruh pengalamannya kerap kali tidak mampu menangkap fakta-fakta sebagaimana adanya.

c. Keinginan.

Seorang observer sering dipengaruhi oleh keinginannya untuk memperoleh hasil tertentu dalam penelitiannya. Sehubungan dengan itu pengamatannya menjadi terbatas karena perhatiannya lebih terarah pada fakta-fakta yang sesuai dengan keinginannya dalam mencapai hasil tertentu.

d. Prasangka

Observer yang memiliki prasangka tertentu terhadap obyek yang diamatinya, tidak akan mampu melakukan pengamatan secara obyektif. Prasangka akan menjerumuskan seorang observer pada penafsiran palsu terhadap gejala-gejala atau fakta-fakta yang timbul.

e. Proyeksi
 
Seorang observer yang memiliki kecenderungan melemparkan kejadian-kejadian di dalam dirinya sendiri kepada obyek-obyek yang berada di luar, tidak akan mampu melakukan pengamatan secara baik. sering terjadi observer mengira telah menangkap sifat-sifat tertentu dari obyeknya, pada hal sebenarnya sifat-sifat itu adalah sifat-sifatnya sendiri.

f. Ingatan.

Tidak semua orang yang akan bertindak sebagai observer memiliki ingatan yang setia (tahan lama). Di samping itu tidak semua observer memiliki ingatan yang luas (dapat mencakup banyak hal). Sehubungan dengan itu dalam pencatatan data yang tidak dilakukan seketika, hasilnya sangat tergantung pada kemampuan ingatan observer. Dalam keadaan seperti itu sering terjadi:

• Fakta-fakta yang dilupakan menjadi tidak tercatat sebagai data penelitian.
• Fakta-fakta yang dilupakan diganti menurut interpretasi observer sendiri.
• Fakta-fakta yang dilupakan cenderung diinterpretasikan sesuai dengan hasil yang diinginkan oleh observer sebagai peneliti.

Berdasarkan uraian di atas, mengingat alat yang dipergunakan dalam melakukan pengamatan adalah mata (penglihatan) dan telinga (pendengaran) di samping alat-alat lain yang dapat dipergunakan secara terbatas, maka perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut:

• Observer harus meyakini bahwa penglihatan dan pendengarannya berfungsi secara baik, agar tidak satu pun data yang lepas dari pengamatannya.
• Observer harus menyadari bahwa penglihatan manusia termasuk dirinya mempunyai kelemahan-kelemahan. Oleh karena itu setiap observer sangat memerlukan alat pencatatan data yang efisien, untuk menghindari kelupaan bilamana hanya mempergunakan mata dan telinga.
• Observer harus menyadari bahwa tidak semua alat sama baiknya untuk melakukan pencatatan.

g. Keadaan fisik dan psikis terutama perasaan.

Observer yang berada dalam kondisi fisik letih, sakit, mengantuk, sedih, marah dan lain-lain sulit untuk melakukan pengamatan yang cermat.

2. Dalam membuat pencatatan dapat terjadi beberapa kelemahan sebagai berikut:

a. Pengaruh Kesan Umum (Hallo Effects)

Kesesatan ini terjadi jika observer terpengaruh oleh kesan umum mengenai obyek yang diamatinya sehingga membuat catatan secara tidak tepat. Misalnya observer dipengaruhi oleh sikap sopan dan penampilan yang rapi dari obyeknya, sehingga cenderung memberikan penilaian yang tinggi terhadap gejala yang diamatinya, walaupun sesungguhnya keadaan gejala itu sebenarnya tidaklah demikian. Sebaliknya dapat terjadi karena penampilan yang tidak rapi, sikap yang agak kasar dan lain-lain dapat mempengaruhi pencatatan berupa penilaian yang rendah terhadap gejala yang diamati obyek pengamatannya.

Pengaruh Keinginan Menolong (Generosity Effects)

b. Kesesatan ini dapat terjadi karena keinginan untuk berbuat baik

terhadap obyek yang diamati, dalam bentuk kecenderungan untuk memberikan penilaian yang menguntungkan walaupun keadaan gejala yang diamati itu sebenarnya tidaklah demikian.

c. Pengaruh Pengamatan Sebelumnya (Carry Over Effects).

Kesesatan ini dapat terjadi karena observer tidak dapat memisahkan kesannya tentang suatu gejala yang terdahulu pada saat mengamati gejala berikutnya atau gejala yang lain. Suatu gejala dinilai tidak baik karena gejala sebelumnya dinilai juga tidak baik, sungguh pun kenyataan sebenarnya tidaklah demikian. Demikian pula dapat terjadi yang sebaliknya.

3. Banyaknya kejadian atau keadaan obyek yang sulit untuk diobservasi, terutama yang menyangkut kehidupan pribadi yang sangat rahasia. Di samping itu kerap kali terjadi munculnya suatu gejala yang akan diamati tidak pada saat pengamatan dilakukan. Dengan kata lain suatu kejadian tidak selalu dapat diramalkan, untuk menetapkan waktu melakukan observasi yang tepat, sehingga diperlukan waktu yang cukup panjang.

4. Observer yang mengetahui dirinya sedang diobservasi, cenderung dengan sengaja menimbulkan tingkah laku yang menyenangkan atau yang baik. Sebaliknya mungkin pula dengan sengaja menimbulkan tingkah laku yang tidak menyenangkan atau yang tidak baik. kesengajaan itu dimaksudkan untuk menyesatkan observer yang tidak diinginkan kehadirannya karena bermaksud mengungkapkan keadaan atau gejala yang sebenarnya dirahasiakan oleh obyek yang diselidiki.

5. Banyak gejala yang hanya dapat diamati dalam kondisi lingkungan yang tertentu, sehingga kalau terjadi gangguan yang tiba-tiba mengakibatkan observasi tidak dapat dilaksanakan. Misalnya gangguan cuaca, gangguan aliran listrik dan lain-lain. Di samping itu waktu berlangsungnya suatu kejadian berpengaruh juga pada kemungkinan dilakukannya pengamatan. Banyak kejadian yang berlangsung dalam jangka waktu yang sangat pendek dan tidak berulang atau terjadi secara serempak pada beberapa tempat dan bahkan mungkin pula berlangsung bertahun-tahun sehingga memerlukan pengamatan yang lama dan membosankan.
Hasil observasi juga dapat dipengaruhi oleh bias yang terjadi, yaitu:

a. Bias Observer (Pengamat)

• Bias pengamat terjadi bila bias peneliti menentukan perilaku mana yang mereka pilih untuk diobservasi dan bila ekspektansi pengamat tentang perilaku mengakibatkan kesalahan sistematis dalam mengidentifikasi dan mencatat perilaku.
• Efek-efek ekspektansi dapat terjadi bila pengamat mengetahui hipotesis-hipotesisnya untuk hasil studi itu atau hasil studi-studi sebelumnya.
• Langkah pertama dalam mengontrol bias pengamat adalah dengan mengakui bahwa hal itu dapat terjadi. 

Rosenhan (1973) dan rekan-rekan sejawatnya dengan mengobservasi interaksi antara anggota staf dan pasien di rumah sakit mental, dan mereka menemukan sebuah bias serius di pihak staf. Begitu pasien diberi label skizofrenik, perilaku mereka diinterpretasi berdasarkan label ini. Para anggota staf menginterpretasikan perilaku yang mestinya dianggap normal bila dilakukan oleh orang-orang waras sebagai bukti ketidakwarasan. Sebagai contoh, para peneliti baru mengetahui setelah studi it selesai bahwa penulisan catatan oleh pengamat partisipan, yang dilakukan secara terbuka, oleh para anggota staf dikatakan sebagai contoh keadaan patologis. Jadi, staf rumah sakit itu cenderung menginterpretasikan perilaku pasien dalam kaitannya dengan label yang telah dilekatkan kepada mereka. Sampel ini mengilustrasikan dengan jelas tentang bahaya potensial dari bias pengamat ini, kesalahan sistematis dalam observasi yang diakibatkan oleh ekspetasnsi pengamat.

c. Efek ekspektansi

Pada banyak studi ilmiah, pengamat memiliki ekspektansi tertentu tentang seperti apa mestinya perilaku dalam situasi tertentu atau setelah menerima penanganan psikologis tertentu. Ekspektansi ini dapat tercipta akibat pengetahuan tentang hasil-hasil penelitian sebelumya atau oleh hipotesis si pengamat sendiri tentang perilaku dalam semacam itu. Ekspektansi dapat menjadi salah satu sumber bias di pihak pengamat – expectancy effects- bila hal itu menyebabkan timbulnya berbagai sistematis dalam observasi (Rosenthal, 1966, 1976).

Cordaro dan Ison (1963) merancang sebuah studi untuk mendokumentasikan efek-efek ekspektansi. Studi itu mengharuskan para mahasiswa yang bertindak sebagai pengamat untuk mencatat jumlah putaran kepala dan kontraksi tubuh yang dilakukan oleh dua kelompok cacing datar. para pengamat diarahkan untuk mengharapkan jumlah putaran kepala dan kontraksi yang berbeda pada kedua kelompok itu. Tetapi, cacing-cacing di kedua kelompok itu pada dasarnya identik. Yang berbeda adalah ekspektansi pengamat tentang sesuatu yang akan mereka lihat. Hasil-hasilnya menunjukkan bahwa para pengamat itu melaporkan jumlah putaran kepala dua kali lebih banyak dan jumlah kontraksi tubuh tiga kali lebih banyak bila jumlah gerakan yang tinggi diekspektansikan dibanding bila jumlah gerakan yang rendah diekspektansikan. Agaknya, para mahasiswa itu menginterpretasikan gerakan-gerakan cacing-cacing itu bergantung yang mereka ekspektansikan untuk dilihat.

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Pada dasarnya dalam kehidupannya, manusia tidak lepas dari kegiatan komunikasi. Komunikasi digunakan untuk dapat berinteraksi dengan lingkungan dan manusia lainnya. Dalam berkomunikasi, manusia menerima stimulus dari yang lain, sehingga ia dapat memberikan respon dari stimulus tersebut melalui panca indera yang dimilikinya. Namun dari stimulus-stimulus yang sama mungkin akan ditafsirkan secara berbeda oleh orang yang berbeda. Alat-alat indera yang dimiliki manusia menyebabkan manusia mampu berpikir, merasakan, dan memiliki persepsi tertentu mengenai dirinya dan dunia sekitarnya.

DAFTAR PUSTAKA

http://klikhimabio.blogspot.com/2009/01/observasi-sebagai-alat-evaluasi.html
http://dc193.4shared.com/img/BM1jZAaO/preview.html
http://wwwmarvel-mycastle.blogspot.com/2010/07/komunikasi-persepsi-observasi-dan.html?spref=fb

Observasi


Posted by Ahmad


PENGERTIAN OBSERVASI

Observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian. Observasi Langsung dilakukan terhadap obyek di tempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa, sehingga observer berada bersama obyek yang diselidikinya. Sedang Observasi Tidak Langsung adalah pengamatan yang dilakukan tidak pada saat berlangsungnya suatu peristiwa yang akan diselidiki. Misalnya peristiwa tersebut diamati melalui film, rangkaian slide atau rangkaian foto.

Tujuan utama metode observasi adalah mendeskripsikan perilaku. Para ilmuwan berusaha mendeskripsikan perilaku selengkap dan seakurat mungkin. Peneliti menghadapi berbagai tantangan serius dalam usaha mencapai tujuan ini. Ilmuwan menyandarkan diri pada observasi terhadap sampel perilaku orang, tetapi mereka harus memutuskan apakah sampel mereka mewakili perilaku yang biasa dilakukan oleh orang itu. Sampel digunakan untuk mempresentasikan populasi yang lebih besar dari semua kemungkinan perilaku.


Agar penggunaan teknik ini dapat menghimpun data secara efektif perlu diperhatikan beberapa syarat sebagai berikut :

1. orang yang melakukan observasi (observer) harus memiliki pengetahuan yang cukup mengenai obyek yang akan diobservasi.
2. observer harus memahami tujuan umum dan tujuan khusus dari penelitian yang dilaksanakannya. Dengan demikian observer harus memahami juga secara baik masalah-masalah penelitian agar mampu menghimpun data dari gejala yang timbul sesuai dengan keperluan pemecahan masalah penelitian.
3. Tentukan cara dan alat yang dipergunakan dalam mencatat data. Untuk itu harus dipertimbangkan apakah pencatatan langsung di tempat observasi tidak akan merugikan bagi pengumpulan data. Sebaliknya harus dipertimbangkan juga apakah pencatatan setelah observasi dapat menjamin terhimpunnya data sebagaimana adanya, lebih-lebih apabila obyeknya komplek. Selanjutnya harus dipilih alat mencatat yang paling efektif apakah mempergunakan anecdotal record, catatan berkala, check list, rating sacle atau mechanical device.
4. Tentukan kategori pencatatan gejala yang diamati, dngan mempergunakan skala tertentu atau sekedar mencatat frekuensi munculnya gejala tanpa klasifikasi tingkatannya. Bilamana dipilih pencatatan dengan kategori tertentu, maka harus dirumuskan dengan tegas dan jelas. Ciri-ciri setiap kategori. Dengan kata lain harus jelas ciri-ciri gejala yang dikelompokkan dalam kategori sangat baik, baik, sedang, buruk, dan buruk sekali.
5. Observasi harus dilakukan secara cermat dan kritis. Seorang observer harus berusaha agar tidak satupun gejala yang lepas dari pengamatannya. Oleh karena itu observer haus bersifat kritis dalam menetapkan apakah satu gejala berhubungan dengan masalah penyelidikannya. Pada giliran berikutnya observer harus besikap ritis pula dalam menetapkan suatu gejala termasuk kategori yang mana.
6. Pencatatan setiap gejala harus dilakukan secara terpisah. Gejala demi gejala harus dicatat secara terpisah agar tidak saling mempengaruhi. Observer harus menghindari pencatatan suatu gejala secara tidak tepat karena pengaruh gejala yang lain. Misalnya karena sikap sopan dari orang yang diobservasi (observer), berpengaruh pada pencatatan tentang ketekunannya dalam bekerja sehingga dikategorikan sangat tekun, sedang dalam kenyataannya yang bersangkutan bukanlah orang yang patut dinyatakan sangat tekun.
7. Pelajari dan latihlah cara-cara mencatat sebelum melakukan observasi. Untuk itu perlu diketahui beberapa alat yang dapat dipergunakan dan cara mencatat dengan alat tersebut, yaitu:



a. Catatan anekdot (Anecdotal Record)
Alat ini dipergunakan untuk mencatat gejala-gejala khusus atau luar biasa menurut urutan kejadiannya. Catatan itu harus dibuat secepat-cepatnya setelah peristiwa khusus atau yang luar biasa itu terjadi. Oleh karena seorang observer jarang dapat berada bersama-sama obyeknya secara terus menerus untuk mencatat peristiwa atau gejala yang berhubungan dengan masalahnya, maka pencatatan ini sering memerlukan bantuan orang lain. Misalnya guru untuk mencatat gejala-gejala khusus tentang muridnya, manager perusahaan tentang karyawannya, Kepala Lembaga Permasyarakatan tentang narapidana dan lain-lain. Pencatatan ini harus dilakukan tentang bagaimana kejadiannya, bukan tentang pendapat si pencatat tentang kejadian tersebut.

b. Catatan Berkala (Insidental Record)
Pencatatan berkala walaupun tetap dilakukan secara berurutan menurut waktu munculnya suatu gejala, aan tetapi tidak dilakukan terus menerus yang mengharuskan observer tetap berada bersama obyeknya untuk jangka waktu yang relatif lama. Catatan berala dilakukan pada waktu tertentu. Dengan demikian pencatatan gejala yang timbul hanya dilakukan pada wakytu yang telah ditetapkan dan terbatas pula pada jangka waktu yang ditetapkan untuk tiap-tiap kali pengamatan.

c. Daftar Cek (Check List)
Pencatatan data dilakukan dengan mempergunakan sebuah daftar yang memuat nama-nama observer disertai jenis-jenis gejala yang diamati. Daftar itu harus disediakan sebelum observasi dilakukan. Dengan demikian tugasobserver adalah memberikan tanda check (silang atau lingkaran dan sebagainya), apabila pada saat melakukan pengamatan ternyata gejala di dalam daftar itu muncul. Sebaliknya tidak memberi tanda check dalam bentuk apapun, bilamana gejala tersebut tida muncul selama observasi dilakukuan. Dengan kata lain pencatatan hanya dilakukuan untuk menyatakan muncul tidaknya suatu gejala dan jumlah pemunculannya selama observasi berlangsung.

d. Skala Nilai (Rating Scale)
Pencatatan data dengan alat ini di lakukan seperti Check list , yakni dengan memberikan tanda check tertentu (silang atau lingkaran) apabila suatu gejala muncul di dalam kolom daftar yang sudah di sediakan. Perbedaannya terletak pada kategori sasi gejala yang di catat. Di dalam daftar rating scale tida sekedar terdapat nama obye yang diobservasi dan gejala-gejala yang akan diselidii, aan tetapi juga dicantuman olom-olom yang menunjukkan tingkatan atau jenjang setiapgejala resebut. Penjenjangan mungkin mempergunakan sala 3 atau 5 dan bahkan mungkin skala 7. Misalnya Bai, Sedang dan Buruk (sala 3), Sangat Baik, Baik, Sedang, Buruk dan Sangat Buruk (Skala 5), Luar Biasa, Sangat Baik, Baik, Sedang, Buruk, Sangat Buruk, Luar Biasa Buruk (Skala 7). Dengan demikian sangat diperlukan kecermatan dan sikap kritis observer dalam mencatat, karena harus menilai termasuk urutan mana suatu gejala yang sedang diamatinya di dalam kategori yang dipergunakan. Oleh karena itu semakin luas pemberian skala berarti semakin sulit pengamatan dilakukan. Pemilihan skala yang dipergunakan sangat tergantung pada masalah dan edalaman hasil penelitian yang henda dicapai.

e. Peralatan Mekanis (Mechanical Device)
Pencatatan data dengan alat ini sebenarnya tidak dilakukan pada saat observasi berlangsung, karena seluruh atau sebagian peristiwa direkam dengan mempergunaan peralatan elektronik sesuai dengan keperluan. Misalnya peristiwanya difilm, diphoto, suara direkam dengan tape recorder, menggunakan video tape dan lain-lain. Untuk pencatatan hasil rekaman itu diulang setelah peristiwanya terjadi. Penggunaan alat-alat elektronik dan optik memang sangat membantu, karena bilamana terjadi keragu-raguan atau kekeliruan dalam mencatat seluruh peristiwa dapat diulang kembali dengan memutar hasil rekaman. Aan tetapi sulit untuk dibantah bahwa penggunaan alat ini memerlukan dana yang cukup besar.
Dari uraian tentang alat pengumpul data dalam observasi tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pencatatan pada dasarnya dilakukan dalam salah satu dari dua bentuk sebagai berikut :
a. Pencatatan berbentuk kronologis yaitu pencatatan yang dilakukan menurut urutan kejadian.
b. Pencatatan berbentu sistematik yakni pencatatan yang dilakukan dengan memasukkan tiap-tiap gejala yang diamati kedalam kategori tertentu, tanpa memperhatikan urutan terjadinya.
Di samping itu dapat pula dibedakan dua bentuk pencatatan dalam versi yang dicatat, yakni :
a. Pencatatan secara faktual, yakni pencatatangejala yang timbul sebagaimana adanya, tanpa interpretasi dari observer.
b. Pencatatan secara interpretatif, yakni pencatatan yang dilauan dengan memberian interprtasi dengan gejala yang timbul oleh observer yang berkewajiban memasukkan atau menggolongkan gejala yang diamatinya kedalam kategori yang telah ditetapkan.Selanjutnya pelaksanaan teknik observasi dapat dilakukan dalam beberapa cara. Penentuan dan pemilihan cara tersebut sangat tergantung pada situasi obyek yang akan diamati.

JENIS-JENIS OBSERVASI

1. Observasi Partisipan
Observasi Partisipan adalah suatu proses pengamatan yang dilakukan oleh observer dengan ikut mengambil bagian dalam kehidupan orang-orang yang akan diobservasi. Observer berlaku sungguh-sungguh seperti anggota dari kelompok yang akan diobservasi. Apabila observer hanya melakukan pura-pura berpartisipasi dalam kehidupan orang yang akan diobservasi tersebut dinamakan Quasi Partisipant Observation. Dalam observasi partisipan perlu diperhatikan beberapa hal untuk meningkatkan kecermatan. Pertama adalah persoalan pencatatan yang harus dilakukan diluar pengetahuan orang-orang yang sedang diamati. Pencatatan yang diketahui akan menimbulkan kecurigaan bahwa pencatat bukan anggoa kelompok tersebut. Bilaman terjadi hal seperti itu kerap kali obyek yang diamati akan bertingkah laku tidak wajar karena mengetahui mereka sedang diamati. Kemungkinan ingkah lakunya dibuat-buat supaya dicatat sebagai tingkah laku yang baik atau sebaliknya dibuat-buat agar dikategorikan buruk.

2. Observasi Non Partisipan
Observasi Non Partisipan adalah dimana observer tidak ikut di dalam kehidupan orang yang akan diobservasi, dan secara terpisah berkedudukan selaku pengamat. Di dalam hal ini observer hanya bertindak sebagai penonton saja tanpa harus ikut terjun langsung ke lapangan.

3. Observasi Sistematik
Observasi Sistematik adalah observasi yang diselenggarakan dengan menentukan secara sistematik faktor-faktor yang akan diobservasi lengkap dengan kategorinya. Dengan kata lain wilayah materi observasi telah dibatasi secara tegas sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian. Umumnya observasi sistematik dilakukan dalam jangka waktu pendek. Oleh karena itu agar terkumpul data sebanyak mungkin, maka observasi ini memerlukan lebih dari seorang observer dan bilamana dimungkinkan dilengkapi pula dengan penggunaan alat pecatat mekanik (elektronik) meskipun ditinjau dari sudut pembiyaan yang biasanya cukup mahal.

4. Observasi Non Sistematik
Observasi Non Sistematik adalah observasi yang dilakukan tanpa terlebih dahulu mempersiapkan dan membatasi kerangka yang akan diamati.

5. Observasi Eksperimental
Observasi Eksperimental adalah dengan sengaja menimbulkan gejala tertentu untuk dapat diobservasi. Pengembangan metode ini makin lama makin intensif karena ternyata memang sangat besar kegunaanya. Dalam observasi ini dilakukan usaha mengendalikan unsur-unsur tertentu di dalam situasi yang akan diamati. Dengan kata lain situasi ini diatur sesuai dengan tujuan penelitian, untuk menghindari, atau mengurangi timbulnya faktor-faktor lain yang tidak diharapkan mempengaruhi situasi itu.


Observasi Eksperimental juga memiliki ciri-ciri yaitu,
a. Observer mambuat sesuatu perangsang berupa suatu situasi yang sengaja diselenggarakan di lingkungan obyek yang akan diobservasi.
b. Situasi perangsang itu harus memungkinkan terdapat variasi gejala yang timbul.
c. Observer harus diusahakan tidak mengetahui maksud sebenarnya dari observasi atau sekurang-kurangnya tentang maksud pengendalian faktor-faktor tersebut di atas.
d. Alat pencatat harus dipilh yang benar-benar mampu membuat catatan yang teliti mengenai gejala-gejala yang timbul.

6. Observasi Non Eksperimental
Observasi Non Eksperimental adalah observasi yang dilakukan dengan tidak menimbulkan gejala-gejala tertentu agar dapat diamati.

 KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN

A. Keunggulan
Kebaikan-kebaikan observasi sebagai teknik pengumpulan data antara lain adalah:
1. Sulit untuk dibantah kenyataan bahwa banyak gejala-gejala dalam kehidupan manusia yang hanya dapat diselidiki dengan melakukan observasi.
2. Banyak obyek yang dalam memberikan bantuan data hanya bersedia diobservasi, misalnya karena terlalu sibuk sehingga tidak mempunyai waktu yang cukup untuk di interviu atau mengisi kuesioner yang memerlukan waktu khusus.
3. Kejadian yang serempak dapat diamati dan dicatat secara serempak pula dengan memperbanyak observer.
4. Observasi tidak tergantung pada self report (kesediaan obyek untuk memberikan informasi tentang dirinya), sehingga data yang diperoleh tidak dipengaruhi oleh penafsiran dan kejujuran obyek yang diselidiki.
5. Banyak kejadian-kejadian yang mungkin dipandang kecil atau remeh oleh obyek penelitian yang tidak dapat diungkapkan dengan mempergunakan alat pengumpulan data yang lain, ternyata sangat menentukan hasil penelitian dan hanya mungkin diungkapkan melalui observasi.

B. Kelemahan
Untuk meningkatkan kecermatan dalam mempergunakan teknik observasi guna mengumpulkan data, perlu diketahui beberapa keterbatasan atau kelemahannya, yaitu:
1. Observasi sangat tergantung pada kemampuan pengamatan dan mengingat dari observer. Kemampuan melakukan pengamatan dan mengingat seorang observer sebagai manusia ternyata dipengaruhi oleh beberapa aspek sebagai berikut:
a. Daya adaptasi.
Kemampuan menyesuaikan diri dengan obyek yang akan diamati sangat penting bagi terselenggaranya pengamatan yang efektif. Akan tetapi bilamana adaptasi ini dilakukan secara berlebih-lebihan, seseorang akan melupakan fungsinya sebagai pengamat sehingga tidak mampu menangkap fakta-fakta tentang obyeknya karena dipengaruhi oleh pendapatannya sendiri sebagai orang yang menjadi bagian dari obyek yang diamatinya.
b. Kebiasaan-kebiasaan
Setiap observer karena kebiasaan-kebiasaan dalam kehidupannya memiliki pola-pola pengalaman tertentu. Dalam melakukan pengamatan pengalaman itu dipergunakan sebagai bahan apersepsi, yang sangat besar peranannya. Observer dalam melakukan interpretasi karena pengaruh pengalamannya kerap kali tidak mampu menangkap fakta-fakta sebagaimana adanya.
c. Keinginan.
Seorang observer sering dipengaruhi oleh keinginannya untuk memperoleh hasil tertentu dalam penelitiannya. Sehubungan dengan itu pengamatannya menjadi terbatas karena perhatiannya lebih terarah pada fakta-fakta yang sesuai dengan keinginannya dalam mencapai hasil tertentu.
d. Prasangka
Observer yang memiliki prasangka tertentu terhadap obyek yang diamatinya, tidak akan mampu melakukan pengamatan secara obyektif. Prasangka akan menjerumuskan seorang observer pada penafsiran palsu terhadap gejala-gejala atau fakta-fakta yang timbul.
e. Proyeksi
Seorang observer yang memiliki kecenderungan melemparkan kejadian-kejadian di dalam dirinya sendiri kepada obyek-obyek yang berada di luar, tidak akan mampu melakukan pengamatan secara baik. sering terjadi observer mengira telah menangkap sifat-sifat tertentu dari obyeknya, pada hal sebenarnya sifat-sifat itu adalah sifat-sifatnya sendiri.
f. Ingatan.
Tidak semua orang yang akan bertindak sebagai observer memiliki ingatan yang setia (tahan lama). Di samping itu tidak semua observer memiliki ingatan yang luas (dapat mencakup banyak hal). Sehubungan dengan itu dalam pencatatan data yang tidak dilakukan seketika, hasilnya sangat tergantung pada kemampuan ingatan observer. Dalam keadaan seperti itu sering terjadi:
1) Fakta-fakta yang dilupakan menjadi tidak tercatat sebagai data penelitian.
2) Fakta-fakta yang dilupakan diganti menurut interpretasi observer sendiri.
3) Fakta-fakta yang dilupakan cenderung diinterpretasikan sesuai dengan hasil yang diinginkan oleh observer sebagai peneliti.
Berdasarkan uraian di atas, mengingat alat yang dipergunakan dalam melakukan pengamatan adalah mata (penglihatan) dan telinga (pendengaran) di samping alat-alat lain yang dapat dipergunakan secara terbatas, maka perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
1) Observer harus meyakini bahwa penglihatan dan pendengarannya berfungsi secara baik, agar tidak satu pun data yang lepas dari pengamatannya.
2) Observer harus menyadari bahwa penglihatan manusia termasuk dirinya mempunyai kelemahan-kelemahan. Oleh karena itu setiap observer sangat memerlukan alat pencatatan data yang efisien, untuk menghindari kelupaan bilamana hanya mempergunakan mata dan telinga.
3) Observer harus menyadari bahwa tidak semua alat sama baiknya untuk melakukan pencatatan.
g. Keadaan fisik dan psikis terutama perasaan.
Observer yang berada dalam kondisi fisik letih, sakit, mengantuk, sedih, marah dan lain-lain sulit untuk melakukan pengamatan yang cermat.

2. Dalam membuat pencatatan dapat terjadi beberapa kelemahan sebagai berikut:
a. Pengaruh Kesan Umum (Hallo Effects)
Kesesatan ini terjadi jika observer terpengaruh oleh kesan umum mengenai obyek yang diamatinya sehingga membuat catatan secara tidak tepat. Misalnya observer dipengaruhi oleh sikap sopan dan penampilan yang rapi dari obyeknya, sehingga cenderung memberikan penilaian yang tinggi terhadap gejala yang diamatinya, walaupun sesungguhnya keadaan gejala itu sebenarnya tidaklah demikian. Sebaliknya dapat terjadi karena penampilan yang tidak rapi, sikap yang agak kasar dan lain-lain dapat mempengaruhi pencatatan berupa penilaian yang rendah terhadap gejala yang diamati obyek pengamatannya.
b. Pengaruh Keinginan Menolong (Generosity Effects)
Kesesatan ini dapat terjadi karena keinginan untuk berbuat baik terhadap obyek yang diamati, dalam bentuk kecenderungan untuk memberikan penilaian yang menguntungkan walaupun keadaan gejala yang diamati itu sebenarnya tidaklah demikian.
c. Pengaruh Pengamatan Sebelumnya (Carry Over Effects).
Kesesatan ini dapat terjadi karena observer tidak dapat memisahkan kesannya tentang suatu gejala yang terdahulu pada saat mengamati gejala berikutnya atau gejala yang lain. Suatu gejala dinilai tidak baik karena gejala sebelumnya dinilai juga tidak baik, sungguh pun kenyataan sebenarnya tidaklah demikian. Demikian pula dapat terjadi yang sebaliknya.

3. Banyaknya kejadian atau keadaan obyek yang sulit untuk diobservasi, terutama yang menyangkut kehidupan pribadi yang sangat rahasia. Di samping itu kerap kali terjadi munculnya suatu gejala yang akan diamati tidak pada saat pengamatan dilakukan. Dengan kata lain suatu kejadian tidak selalu dapat diramalkan, untuk menetapkan waktu melakukan observasi yang tepat, sehingga diperlukan waktu yang cukup panjang.

4. Observer yang mengetahui dirinya sedang diobservasi, cenderung dengan sengaja menimbulkan tingkah laku yang menyenangkan atau yang baik. Sebaliknya mungkin pula dengan sengaja menimbulkan tingkah laku yang tidak menyenangkan atau yang tidak baik. kesengajaan itu dimaksudkan untuk menyesatkan observer yang tidak diinginkan kehadirannya karena bermaksud mengungkapkan keadaan atau gejala yang sebenarnya dirahasiakan oleh obyek yang diselidiki.

5. Banyak gejala yang hanya dapat diamati dalam kondisi lingkungan yang tertentu, sehingga kalau terjadi gangguan yang tiba-tiba mengakibatkan observasi tidak dapat dilaksanakan. Misalnya gangguan cuaca, gangguan aliran listrik dan lain-lain. Di samping itu waktu berlangsungnya suatu kejadian berpengaruh juga pada kemungkinan dilakukannya pengamatan. Banyak kejadian yang berlangsung dalam jangka waktu yang sangat pendek dan tidak berulang atau terjadi secara serempak pada beberapa tempat dan bahkan mungkin pula berlangsung bertahun-tahun sehingga memerlukan pengamatan yang lama dan membosankan.
Hasil observasi juga dapat dipengaruhi oleh bias yang terjadi, yaitu:
a. Bias Observer (Pengamat)
• Bias pengamat terjadi bila bias peneliti menentukan perilaku mana yang mereka pilih untuk diobservasi dan bila ekspektansi pengamat tentang perilaku mengakibatkan kesalahan sistematis dalam mengidentifikasi dan mencatat perilaku.
• Efek-efek ekspektansi dapat terjadi bila pengamat mengetahui hipotesis-hipotesisnya untuk hasil studi itu atau hasil studi-studi sebelumnya.
• Langkah pertama dalam mengontrol bias pengamat adalah dengan mengakui bahwa hal itu dapat terjadi.
Rosenhan (1973) dan rekan-rekan sejawatnya dengan mengobservasi interaksi antara anggota staf dan pasien di rumah sakit mental, dan mereka menemukan sebuah bias serius di pihak staf. Begitu pasien diberi label skizofrenik, perilaku mereka diinterpretasi berdasarkan label ini. Para anggota staf menginterpretasikan perilaku yang mestinya dianggap normal bila dilakukan oleh orang-orang waras sebagai bukti ketidakwarasan. Sebagai contoh, para peneliti baru mengetahui setelah studi it selesai bahwa penulisan catatan oleh pengamat partisipan, yang dilakukan secara terbuka, oleh para anggota staf dikatakan sebagai contoh keadaan patologis. Jadi, staf rumah sakit itu cenderung menginterpretasikan perilaku pasien dalam kaitannya dengan label yang telah dilekatkan kepada mereka. Sampel ini mengilustrasikan dengan jelas tentang bahaya potensial dari bias pengamat ini, kesalahan sistematis dalam observasi yang diakibatkan oleh ekspetasnsi pengamat.

b. Efek ekspektansi
Pada banyak studi ilmiah, pengamat memiliki ekspektansi tertentu tentang seperti apa mestinya perilaku dalam situasi tertentu atau setelah menerima penanganan psikologis tertentu. Ekspektansi ini dapat tercipta akibat pengetahuan tentang hasil-hasil penelitian sebelumya atau oleh hipotesis si pengamat sendiri tentang perilaku dalam semacam itu. Ekspektansi dapat menjadi salah satu sumber bias di pihak pengamat – expectancy effects- bila hal itu menyebabkan timbulnya berbagai sistematis dalam observasi (Rosenthal, 1966, 1976).
Cordaro dan Ison (1963) merancang sebuah studi untuk mendokumentasikan efek-efek ekspektansi. Studi itu mengharuskan para mahasiswa yang bertindak sebagai pengamat untuk mencatat jumlah putaran kepala dan kontraksi tubuh yang dilakukan oleh dua kelompok cacing datar. para pengamat diarahkan untuk mengharapkan jumlah putaran kepala dan kontraksi yang berbeda pada kedua kelompok itu. Tetapi, cacing-cacing di kedua kelompok itu pada dasarnya identik. Yang berbeda adalah ekspektansi pengamat tentang sesuatu yang akan mereka lihat. Hasil-hasilnya menunjukkan bahwa para pengamat itu melaporkan jumlah putaran kepala dua kali lebih banyak dan jumlah kontraksi tubuh tiga kali lebih banyak bila jumlah gerakan yang tinggi diekspektansikan dibanding bila jumlah gerakan yang rendah diekspektansikan. Agaknya, para mahasiswa itu menginterpretasikan gerakan-gerakan cacing-cacing itu bergantung yang mereka ekspektansikan untuk dilihat.



c. Bias-Bias Lain
Ekspektansi seorang pengamat tentang hasil sebuah studi mungkin bukan satu-satunya sumber bias pengamat. Anda mungkin berpikir bahwa dengan menggunakan peralatan terotomasi seperti kamera film akan mengeliminasi bias pengamat. Meskipun otomasi mengurangi peluang bias pengamat, tetapi bukan berarti mengeliminasinya. Simak kenyataan bahwa, untuk merekam perilaku di atas film, pengamat harus menentukan sudut pengambilan, lokasi, dan waktu pemfilman. Sejauh aspek-aspek studi ini dipengaruhi oleh bias pribadi pengamat, keputusannya dapat mengintroduksikan berbagai kesalahan sistematis pada hasil-hasilnya. Altmann (1974) mendeskripsikan sebuah studi observasional terhadap perilaku binatang yang para pengamatnya membiaskan hasil-hasilnya dengan mengambil waktu istirahat tengah hari ketika binatang-binatang itu dalam keadaan tidak aktif. Observasi terhadap binatang selam periode tidak aktif ini secara mencolok mata tidak ada dalam catatan observasi. Lebih jauh, dengan menggunakan peralatan terotomasi pada umumnya hanya menunda proses klasifikasi dan interpretasi, dan sangat mungkin bagi efek-efek bias pengamat untuk terintroduksi ketika rekaman naratifnya dikode dan dianalisis.


SUMBER/SOURCE :

 http://dodidnurianto.blogspot.com/2010/06/observasi.html
 
 http://wwwmarvel-mycastle.blogspot.com/2010/07/komunikasi-persepsi-observasi-dan.html
 
 pengertian-observasi-dan-kedudukannya_files/129348724-widget_css_bundle.css
 
 http://hidayanti-nawari.blogspot.com/2011/03/observasi-dan-wawancara.htm

Negosiasi


Posted by Ahmad









Negosiasi adalah sebuah proses dimana dua pihak atau lebih melakukan pertukaran barang atau jasa dan berupaya menyepakati nilai tukarnya. Negosiasi juga merupakan Proses komunikasi antara dua orang atau lebih guna mengembangkan solusi terbaik yang paling menguntungkan bagi pihak-pihak yang terlibat.


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988), negosiasi dapat didefinisikan:
·        Proses tawar menawar dengan jalan berunding untuk member atau menerima guna mencapai kesepakatan bersama antara satu pihak (kelompok atau organisasi) danpihak (kelompok atau organisasi) yang lain.·     Penyelesaian sengketa secar damai melalui perundingan antara pihak-pihak yang bersengketa
.
MACAM-MACAM NEGOSIASI
Selama berlangsung proses tersebut, ada bermacam-macam negosiasi yang dihadapi oleh para pihak yang bernegosiasi :
1.                 Negosiasi kooperatif 
Jenis negosiasi dimana konflik dapat diminimalkan dan seluruh gagasan bertujuan untuk mencapai solusi dimana semua pihak mendapatkan manfaat. Negosiator yang menggunakan jenis negosiasi ini disebut Value Creators.


 2.                 Negosiasi kompetitif 
 
Jenis negosiasi dimana suasana negosiasi tidak ramah dan masing-masing pihak berusaha sedapatnya untuk mendapatkan tawaran terbaik bagi dirinya sendiri.

TAHAP-TAHAP BERNEGOSIASI
Dalam pelaksanaan negosiasi sesungguhnya tidak ada standardisasi proses atau tahapan baku yang menjadi tolak ukur baik tidaknya negosiasi. Tahapan-tahapan negosiasi dapat berkembang dengan sendirinya tergantung pada permasalahan yang dihadapi. Meskipun demikian, secara umum proses bernegosiasi memiliki pola sama, yaitu sebagai berikut.
1. Persiapan. Pada tahap ini, negosiator mulai mengadakan kick off meeting internal untuk keperluan pengumpulan informasi relevan yang lengkap, pembentukan tim apabila diperlukan. Dalam rangka pembentukan tim, perlu diadakan “pembagian peran”, peran yang ada biasanya adalah:
a. Pemimpin tim negosiator dengan tugas memimpin tim, memilih dan menentukan anggota tim, menentukan kebijakan khusus, dan mengendalikan anggota tim lainnya.
b. Anggota Kooperatif yang menunjukan simpati kepada pihak lain dan juga bertindak hati-hati agar pihak lain merasa kepentingnnya tetap terlindungi. Peran ini seolah-olah mendukung penawaran pihak lain.
c. Anggota Oposisi yang bertugas untuk membantah argumentasi yang dilakukan pihak lain, anggota ini juga berusaha untuk membuka kelemahan dan merendahkan posisi tawar pihak lain.
d. Sweeper yang bertugas sebagai problem solver pemecah kebuntuan dalam negosiasi, dan bertugas menunjukkan inkonsistensi pihak lain.
Selain pembentukan tim, pada tahap ini perlu bahas mengenai strategi yang akan di lakukan, apakah rigid atau fleksibel atau keduanya. Strategi juga dapat tentukan berdasarkan kemampuan tim yang ada.
2. Proposal. Pada tahap ini, negosiator dapat memilih, apakah langsung melakukan penawaran pertama atau menunggu pihak lain yang mengajukan penawaran. Dalam tahap ini, negosiator sudah harus siap mempelajari kemungkinan-kemungkinan yang ada. Meneliti serta membaca strategi pihak lain adalah tepat jika dilakukan pada tahap ini.
3. Debat. Tahap ini merupakan tahap terpenting dalam suatu proses negosiasi. Dengan dilakukannya debat, kita dapat mengetahui seberapa jauh kepentingan kita bisa dipertahankan atau diteruskan dan seberapa jauh kepentingan pihak lain akan kita terima. Tahap ini diisi dengan argumentasi dari masing-masing pihak. Dari argumentasi tersebut dapat terlihat strategi dan fleksibilitas pihak lain.
4. Tawar menawar. Setelah diadakan proposal dan debat, negosiator mengadakan tawar menawar atas kepentingan pihaknya maupun pihak lain. Dalam tahap ini argumentasi sudah tidak terlalu diperlukan, yang diperlukan adalah fakta, data, dan kemampuan untuk mencapai tujuan negosiasi.
5. Penutup. Suatu negosiasi dapat berakhir dengan berbagai kemungkinan. Antara lain, negosiasi berhasil, negosiasi gagal, negosiasi ditunda, negosiasi dead-lock, para pihak walk-out, dan lainnya. Apabila negosiasi berhasil, direkomendasikan untuk membuat semacam memorandum of understanding (MoU) untuk keperluan para pihak menekan pihak lainnya untuk menjalankan kesepakatan hasil negosiasi (contract enforcement).

PRINSIP BERNEGOSIASI
Prinsip negosiasi yang selama ini kita ketahui bersama terdiri dari 4 pilihan, yakni:
1.     I Lose, You Lose
Prinsip yang pertama ini adalah prinsip negosiasi yang paling tidak sehat dan bisaanya didasari oleh keinginan untuk mengalahkan yang begitu besar sehingga segala upaya dilakukan termasuk mengorbankan diri sendiri demi agar tujuannya tercapai.
2.     I Lose, You Win
] Prinsip negosiasi yang kedua juga tidak kalah buruknya dengan yang pertama karena walaupun ada pihak yang menang namun kita berada dipihak yang kalah. Dalam suatu binis atau usaha bila kita menganut prinsip yang satu ini maka cepat atau lambat maka usaha kita pasti akan mengalami kebangkrutan.
3.     I Win, You Lose
Prinsip negosiasi yang ketiga ini masih sering kita temui saat ini yakni hanya mengejar keuntungan sesaat dengan menipu pihak lain. Untuk jangka pendek mungkin prinsip ini dapat berhasil namun tidak akan dapat bertahan untuk jangka waktu yang panjang.
4.     I Win, You Win
Prinsip negosiasi yang ke-empat inilah yang paling ideal untuk dijalankan, dimana semua pihak mendapatkan keuntungan.

TIPS BERNEGOSIASI
Bagaimana cara negosiasi yang baik??? cara negosiasi yang sering saya lakukan ketika berunding dalam persidangan di kampus adalah seperti dibawah ini: 
Saya akan memperhatikan dan mempersiapkan dulu hal-hal yang perlu sebelum melakukan perundingan atau nogosiasi tersebut dan hal yang saya lakukan adalah:

1. Memikirkan manfaat bagi kedua pihak supaya tidak ada yang di rugikan.
2. memikirkan dulu alternatif-alternatif apa yang harus dilakukan.
3. Menyusun alternatif secara berjenjang atas pertimbangan untung dan rugi
Kata-kata yang harus disampaikan dalam bernegosiasi juga perlu dipikirkan agar tidak menyinggung dan jangan sampai apa yang kita katakan itu dimaknai dengan kepentingan individu walalupun pada aslinya itu adalah kepentingan individu atau golongan dan istilah yang baik kita ucapkan adalah:

1. jika menolak lebih baik dengan pernyataan “kurang setuju” dari pada “tidak setuju” atau “kurang sependapat” dari pada “tidak sependapat”
2. Penggunaan kata “kita” lebih baik dari pada kata “saya” atau kata “


SUMBER / SOURCE :


http://www.kangnoval.com/2008/11/jurus-dan-teknik-negosiasi-yang-ampuh.html/feed
 
http://www.edo.web.id/wp/2007/08/14/negosiasi/ 
http://ellopedia.blogspot.com/2010/09/negosiasi.html 
 
http://mademoiselle-merisa.blogspot.com/2011/02/negosiasi-start-out-with-ideal-and-end.html 
 
teknik-negosiasi_files/amm.js
 
http://www.ahmadzakaria.net/blog/category/it-law/